Leemon

Mutiara Ekowisata Desa Koto Lamo

Iklan

Riau adalah salah satu provinsi yang tiap tahunnya identik dengan bencana asap. Dengan berulangnya bencana tersebut tiap tahun, bisa dibayangkan seperti apa buruknya kondisi hutan di Riau saat ini. Belum lagi perluasan wilayah perkebunan sawit yang sepertinya tiap tahun selalu saja mengalami peningkatan. Hingga muncul statement “Hutan di Riau saat ini sudah berganti dengan perkebunan sawit”.

Hal ini lah yang menjadi keresahan oleh Rumah Budaya Sikukeluang sehingga pada tahun 2014 saat bencana asap paling parah melanda provinsi Riau gerakan #melawanasap di galakkan rumah budaya ini bersama dengan komunitas-komunitas yang ada di kota Pekanbaru.

Merasa gerakan #melawanasap kurang cukup untuk melindungi wilayah hutan yang belum terbakar, om Heri Budiman dan teman-teman dari Rumah Budaya Sikukeluang mencoba mencari cara untuk melindungi bagian hutan yang masih ada. Hingga akhirnya di tahun 2014 juga mereka diajak oleh teman dari HAKIKI berkunjung ke desa Koto Lamo di Kampar Kiri Hulu untuk melihat hutan yang masih terjaga dengan air sungai yang jernih serta bebatuan yang menghiasi sepanjang perjalanan.

Data degredasi wilayah hutan di Indonesia.

Perjalanan menuju Desa Koto Lamo.

Pertama kali menginjakkan kaki di Desa Koto Lamo telah membuat om Heri dan teman-teman Sikukeluang jatuh cinta dengan keadaan alam yang masih terjaga. Kemudian mereka menaikkan tagar Save Rimbang Baling ke media sosial untuk membuat masyarakat melihat bahwa masih ada lingkungan alam yang masih terjaga dan wajib kita lindungi dari perluasan wilayah perkebunan sawit oleh para cukong-cukong yang selama ini menjadi tokoh utama rusaknya hutan di Riau. Mereka pun mulai memposting foto-foto keindahan alam Desa Koto Lamo dan kawasan Rimbang Baling yang mempesona.

Tak cukup dengan hanya membagi keindahan alam Rimbang Baling melalui foto, om Heri dan teman-teman ingin agar orang-orang dapat melihat langsung keindahan hutan dan alam yang merupakan produsen utama oksigen yang selama ini kita hirup. Dengan ini tentunya kesadaran akan pentingnya melestarikan alam akan meningkat. Maka untuk awalnya dibuatlah sebuah pelataran yang bisa membuat orang menikmati indahnya bentangan hutan Rimbang Baling.

Lalu setelah itu terfikir agar tak hanya foto, om Heri pun ingin agar orang lain dapat merasakan seperti apa suasana tinggal di hutan yang alami dan ditepian sungai yang jernih maka dibangunlah sebuah camping ground bernama Camping Ground Rimbang Baling.

Suasana camping ground yang menyatu dengan alam.

Jika ceritaku berhenti sampai disini, pasti kalian semua berfikir bahwa keuntungan dari camping ground itu hanya dinikmati oleh Om Heri sendiri ya kan? Tapi sebenarnya ada hal luar biasa lainnya yang ternyata menjadi latar belakang dijalankannya camping ground tersebut.

Kali ini aku akan bercerita tentang poin penting kenapa Om Heri Budiman dan Rumah Budaya Sikukeluang rela menempuh perjalanan sekitar lima jam dari kota Pekanbaru dan dengan medan yang cukup berat.

Desa Koto Lamo adalah sebuah tapak sejarah berdirinya desa pertama atau perkampungan pertama di kawasan Rimbang Baling itu. Bisa dikatakan Desa Koto Lamo adalah salah satu desa adat yang masih ada dan masih menjaga adat istiadatnya hingga saat ini.

Menariknya lagi saat ini sebagian masyarakat Koto Lamo sempat tidak memiliki ktp dikarenakan warga yang tinggal di tapak pertama Desa Koto Lamo tersebut berada di wilayah lindungan Cagar Alam padahal sesungguhnya masyarakat tersebut telah tinggal dikawasan tersebut jauh sebelum status Cagar Alam itu ada.

Padahal peraturan adat Koto Lamo melarang warganya sembarangan menebang hutan. Mereka hanya boleh menebang kayu yang sudah berusia dua tahun. Dan tidak boleh ada orang diluar lingkungan adat menebang pohon di wilayah Koto Lamo. Jika pun ada yang bersikeras ingin menebang hutan di wilayah adat diharuskan untuk menetap dan masuk ke salah satu suku yang ada disana serta diharuskan untuk mengikuti peraturan ninik mamak yang ada. Hal inilah yang menjadikan lingkungan hutan di Desa Koto Lamo masih terjaga hingga saat ini.

Dari salah seorang pemimpin adat diketahuilah bahwa kawasan hutan di wilayah Koto Lamo tidak bisa ditanami. Hal ini disebabkan dengan kontur tanah berupa batuan cadas dan terjal, sehingga sulit untuk ditanami tanaman hortikultura. Memang ada sebagian kawasan yang bisa ditanami dengan pohon karet, namun harga jualnya tidaklah tinggi sekitar Rp 3.500,00 perkilo. Itu pun mereka harus turun dulu ke Desa Gema untuk menjual ke penadah yang ada disana untuk kemudian dijual kembali ke Pekanbaru. Sebagian masyarakat lagi juga berprofesi sebagai pembuat perahu atau penjual kayu.

Dikarenakan tingkat kebutuhan hidup yang semakin tinggi bukan tidak mungkin peraturan adat yang selama ini terjaga bisa saja terkikis dikarenakan pesona pendapatan yang lebih besar dari perkebunan sawit ataupun perambahan hutan.

Oleh karena itu om Heri Budiman dan teman-teman berfikir untuk mencari alternatif pendapatan lain bagi masyarakat Koto Lamo. Tak lain agar kebutuhan hidup masyarakat Koto Lamo terpenuhi.

Buatku yang memang tertarik didunia pestarian pusaka dan budaya, dengan adanya camping ground ini tidak hanya sebuah produk ekowisata yang dikembangkan oleh komunitas yang ada di Pekanbaru. Tapi juga sebuah proses pelestarian yang melibatkan langsung masyarakat tempatan untuk melindungi apa yang mereka punya dan manfaatnya juga dirasakan langsung oleh mereka. Bukan hanya sebuah produk bisnis yang menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi tapi juga terjaganya sistem adat masyarakat Koto Lamo yang berdampak pada pelestarian hutan secara langsung.

Warga Koto Lamo yang ikut membangun camping ground Rimbang Baling.

Mengutip dari pembicaraan ku dengan bang Dedi ketika beliau ikut dalam pelaksanaan camping ground Rimbang Baling. Bang Dedi sempat berbincang dengan salah satu tetua adat dan beliau menyebutkan.

Allah itu adil ya Ded, ditanah yang tidak bisa ditanami seperti ini ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk dijadikan lokasi kunjungan wisata

Ya, masyarakat Koto Lamo memang menyambut dengan sangat baik adanya ide camping ground ini. Hal ini juga dikarenakan mereka dilibatkan langsung dalam setiap proses pelaksanaannya bahkan dimulai dari pemilihan lokasi camping ground tersebut. Dan trip yang dinikmati oleh tamu yang berkunjung juga semuanya melibatkan masyarakat setempat.

Keuntungan yang didapat oleh desa juga jelas. Ada kesepakatan antara Sikukeluang dan masyarakat Koto Lamo bahwa dari setiap tamu yang datang ada beberapa puluh ribu yang dibagi ke kas desa. Pada awalnya kas desa yang biasanya kosong semenjak ada camping ground tersebut sudah mulai terisi. Dan masyarakat juga dilibatkan seperti halnya ketika tamu datang akan ada pertunjukan tarian, silat ataupun musik yang dimainkan oleh masyarakat tempatan sendiri. Untuk menu makanan juga disiapkan oleh masyarakat Koto Lamo.

Camping ground ini sendiri dikonsep dengan fasilitas sekelas hotel melati jadi tamu yang berkunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan alam secara langsung tapi juga dilayani dengan kemudahan yang telah disiapkan di camping ground Rimbang Baling tersebut. Selain itu tamu juga dapat menikmati trip kunjungan wisata sejarah ke desa Koto Lamo, menikmati serunya bermain air di sungai yang jernih serta tidak melewatkan keindahan air terjun yang ada dibeberapa spot desa.

Menurutku ide dari Om Heri Budiman dan teman-teman di Sikukeluang adalah paket lengkap. Ini merupakan kabar baik dari Indonesia yang bukan hanya meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Koto Lamo tapi juga dampaknya ke pelestarian pusaka dan budaya serta lingkungan yang ada.

Ditambah lagi dengan kunjungan tamu-tamu yang datang dan merasakan langsung keindahan alam Rimbang Baling serta keramahan masyarakat Koto Lamo bukan tidak mungkin kampanye pelestarian ini akan bergema jauh lebih luas dari kawasan Rimbang Baling itu sendiri.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Iklan

Iklan