My tought

Secoretan Cerita.

Ada sebuah kisah. Ada banyak kisah. Dimana hati kadang menjadi tolak ukur yang rancu.

Lalu, dimana kita bisa memulihkan kerancuan? Entahlah,

Katanya air mata adalah bukti bahwa hati kita tak sepenuhnya buta.

Air mata adalah bukti bahwa nurani kita masih manusia, bukan monster.

Namun sayang, monster itu kadang berbaik rupa berdiri didepan podium megah didepan sana.

Lalu monster tak memiliki hati?

Hmmm monster itu bukan tak memiliki hati, tapi dia mencungkil hatinya lalu menjualnya untuk kekuasaan.

Lalu, konon katanya semua manusia itu merasa selalu benar. Iya, selalu merasa benar?

Karena disitulah monster bekerja, memanfaatkan rasa benar.

Memanfaatkan rasa. Memanfaatkan hati. Memanfaatkan simpati. Membangun logika.

Hati? Bukan hati mereka, hati anak manusia yang ku maksud.

Hati anak-anak manusia yang cenderung lemah dan mengayun kemana angin berhembus.

Mengarahkan isu pada ranah-ranah yang katanya benar. Ranah-ranah yang katanya Hak. Ranah-ranah yang kebanyakan adalah sengketa yang bukan tak terselesaikan hanya sayang untuk diselesaikan.

Aku menatap pada beberapa potong kisah yang tak mampu kupahami.

Tentang cinta. Tentang kasih. Tentang tepaselira.

Aku tak paham.

Aku tak mengerti.

Selayaknya kata-kata yang hanya hadir pada ruang imaji.

Seperti anomali pada sebuah kerajaan.

Lalu?
Tak ada lalu.

Hanya bagaimana?
Apa dan mengapa?

Sebab musabab yang terkadang berbuku-buku menjadi teori.

Lalu hanya.

Puuufffff

Menjadi bagian lirik lagu.

ketika empati hanya milik kami yang yak punya kuasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s